Jika menurut ilmu biologi sifat orang tua diturunkan kepada anak di dalam gennya, bukankah itu artinya stereotip berdasarkan ras bisa dibenarkan secara sains?

 

Jika menurut ilmu biologi sifat orang tua diturunkan kepada anak di dalam gennya, bukankah itu artinya stereotip berdasarkan ras bisa dibenarkan secara sains?

Tidak. Malah sebaliknya, loh. Saya jelaskan.

Pertama-tama, mari kita bahas tentang bagaimana penggolongan ras dapat lahir. Konsep tentang ras tumbuh dari kodifikasi dari salah satu naluri dasar manusia, yaitu keinginan untuk mengidentifikasi dan menggolongkan apapun yang dikenali selama hidup. Dengan kata lain, kita sebagai manusia cenderung untuk memberikan identitas kepada apapun yang kita ketahui, baik itu kepada diri sendiri maupun hal-hal lain.

Nah, dalam mengidentifikasi sesama manusia, aspek yang paling kentara dan jelas dalam membedakan satu identitas dengan identitas lain adalah dengan melihat rupa atau morfologi. Paling mudah kita dapat mengenali dan membedakan satu individu dengan individu lain dengan melihat tampang dari wajah seseorang.

Gunakan metode identifikasi tersebut, lalu aplikasikan kepada set morfologi yang lebih luas untuk jumlah objek yang lebih banyak di dalam suatu area tertentu. Misal, di daerah A terdapat sekelompok orang yang rata-rata memiliki karakter morfologi B yang mana asosiasi karakter B dengan daerah A dikodifikasi dengan memberi identitas berupa ras C. Dengan begitu, ketika kita melihat seseorang dengan karakter B, maka kemungkinan orang tersebut adalah anggota dari ras C yang berasal dari daerah A.

Kira-kira begitu dasar dari konsep penggolongan ras.

Sampai tahap ini, nampaknya konsep penggolongaan ras cukup rasional dan logis, hanya saja dasar dari penggolongan tersebut sangat rapuh karena satu hal: Morfologi tidak sangklek.

Sebagai gambaran singkat, mari kita kenali satu individu yang secara rasial dikategorikan sebagai Negroid dari Zimbabwe.

Kemudian perhatikan satu orang lain yang juga dikategorikan sebagai Negroid dari Sudan Selatan.

Apa persamaan dari keduanya? Ya! Warna kulit. Akan tetapi, secara genetik, mereka berdua memiliki kekerabatan yang lebih jauh ketimbang dengan kekerabatan dari orang-orang Dravida di India Selatan…

…dengan orang-orang Sami di Finlandia.

Kalau mau lebih ekstrem lagi, orang-orang San di Afrika Selatan…

…secara biologis merupakan suatu kelompok yang paling terpisah dari semua populasi manusia lainnya. Sekalipun kelompok San sering dikategorikan sebagai ras Negroid, kenyataannya jika semua populasi manusia dikelompokkan berdasarkan jarak kekerabatan satu sama lain, maka akan muncul hasil di mana terdapat dua kelompok besar manusia: San dan selain San.

Serius, sekelompok suku nomaden di Afrika Selatan secara biologis merupakan saudara jauh dari semua manusia di dunia. Bukan berarti orang-orang San adalah entitas terpisah dari manusia. Bukan begitu. Maksudnya adalah, ketika populasi awal manusia mulai terpecah menjadi dua populasi terpisah, satu populasi menjadi moyang San dan satu populasi lagi menjadi moyang bagi semua orang selain San.

Bingung? Rumit? Memang.

Maka dari itu, sebelum ilmu biologi berkembang pesat, konsep ras hanya berpatok pada satu aspek: Warna kulit. Tanpa disadari, warna kulit bukanlah suatu aspek yang sangklek, melainkan aspek yang merupakan hasil dari respon evolusioner terhadap lingkungan. Dengan kata lain, warna kulit dapat tampil berbeda pada dua populasi yang hidup di dua lingkungan yang berbeda, dan dapat tampil mirip pada dua populasi yang hidup di lingkungan yang mirip. Dalam kasus ini, warna kulit dipengaruhi oleh curah sinar matahari di suatu tempat.

Maka tidak heran jika kelompok-kelompok manusia berkulit gelap umum ditemui di tempat yang kaya akan sinar matahari, sedangkan di tempat yang lebih sedikit mendapat sinar matahari akan umum ditemukan kelompok-kelompok manusia berkulit pucat. Tidak heran jika kelompok Bantu di Afrika Tengah, Dravida di India Selatan, dan Melanesia di Papua mengembangkan kulit gelap, toh tempat hidup mereka mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun, meskipun ketiganya tidak berkerabat dekat satu sama lain.

Apalagi ketika konsep penggolongan ras mulai dikodifikasi di abad ke-13, terdapat asumsi bahwa ada tiga ras besar manusia: Kulit putih (Kaukasoid), kulit kuning (Mongoloid), dan kulit hitam (Negroid). Masing-masing didasari dari kisah dari Alkitab di mana manusia di Bumi merupakan keturunan dari tiga putera Nuh, yakni Yafet, Sem, dan Ham.

Beberapa abad kemudian muncul masalah, di mana terdapat kelompok orang di Asia Tenggara dan Oseania yang warna kulitnya tidak cocok dengan tiga kelompok ras yang diketahui. Dari situ muncullah ras baru yang berkulit cokelat yang bernama Ras Melayu, sekalipun orang-orang di Asia Tenggara Oseania pada dasarnya adalah anggota Mongoloid yang kulitnya lebih gelap karena hidup di daerah yang disinari matahari sepanjang tahun.

Ada lagi masalah di mana suku-suku asli Benua Amerika juga tidak cocok dalam kategori ras manapun. Dibuat lagilah ras baru yang berkulit merah yang dinamai Ras Amerindian.

Beranjak dari sini, kita mulai membahas stereotip rasial.

Di abad ke-18, seorang antropolog bernama Johann Friedrich Blumenbach menyusun sebuah teori rasial yang bernama "Teori Lima Ras", yang didasari bahwa umat manusia tergolong atas lima ras: Kaukasoid, Mongoloid, Negroid, Melayu, dan Amerindian.

Nah, konsep ras Blumenbach lebih mengandalkan morfologi tengkorak ketimbang pada warna kulit semata, meskipun dasar penggolongan Blumenbach asalnya karena warna kulit yang telah kita jelaskan di atas.

Begini, di dalam tengkorak setiap manusia terdapat sebuah organ yang bernama otak. Organ ini merupakan organ yang menentukan dan mengatur kecerdasan seseorang. Nah, ketika penggolongan ras dilakukan lewat identifikasi tengkorak, tinggal tunggu waktu saja sampai ada yang mengaitkan ras dengan tingkat kecerdasan.

Ternyata benar, karena tidak sampai 20 tahun setelah Blumenbach menyusun teori rasialnya, mulailah tersebar konsep di mana terdapat hierarki antara satu ras dengan ras lain, di mana Kaukasoid adalah ras paling unggul, diikuti Mongoloid, Melayu, Amerindian, dan diakhiri dengan Negroid yang dianggap paling terbelakang.

Hal tersebut didukung dengan fakta di mana peradaban Kaukasoid sedang berada pada fase inovatif di abad ke-18, diikuti dengan peradaban Mongoloid yang cukup maju namun relatif inferior dan stagnan dibanding dengan peradaban Kaukasoid, kemudian keadaan peradaban Melayu yang menjadi bawahan dari dua peradaban di atas, lalu peradaban Amerindian yang sedang memasuki tahap awal revolusi agraris, sampai pada peradaban Negroid yang dianggap setara dengan zaman batu.

Belum lagi konsep rasial tersebut disangga oleh suatu konsep yang bernama "esensialisme". Konsep tersebut menganggap bahwa tiap ras merupakan kelompok yang saling terpisah satu sama lain, karena mereka masing-masing memiliki "esensinya" sendiri. Tentu saja kita ketahui bahwa hal tersebut salah, karena… pasangan dari dua ras berbeda dapat menikah dan memiliki anak yang mirip dengan salah satu orangtuanya atau paduan antara keduanya.

Ingat, meskipun data yang dipakai benar, tidak menjamin kesimpulan yang ditarik juga pasti benar.

Konsep stereotip rasial ini akhirnya diterima secara umum sebagai pembenaran akan perbedaan perlakuan publik berdasarkan ras. Contohnya di Indonesia ketika pada masa penjajahan Belanda, pihak kolonial (Kaukasoid) adalah warga utama, diikuti oleh kaum Tionghoa (Mongoloid), baru di jajaran terbawah adalah kaum inlander (Melayu).

Oke, terus apa urusannya penjelasan panjang begini dengan premis dalam pertanyaan?

Begini, memang benar bahwa sifat dari seseorang dapat diturunkan kepada keturunannya, di mana salah satu sifat yang dapat diwariskan adalah sifar morfologis. Akan tetapi, sifat yang diwariskan merupakan separuh dari satu orangtua, dan total sifat yang diwarisi anak adalah paduan dari warisan kedua orangtuanya. Ilmu genetika mematahkan konsep esensialisme dengan ditemukannya bahwa tidak ada batas jelas antara kelompok rasial. Teori evolusi mematahkan konsep tiga atau lima ras dengan menunjukkan bahwa karakter morfologis tidaklah sangklek, dan dapat muncul atau hilang sesuai dengan lingkungan hidup. Cabang filogenetik mematahkan hierarki rasial dengan menunjukkan bahwa semua manusia masih cukup berkerabat sehingga seantero umat manusia masih berada di dalam satu kelompok yang sama sampai pada tingkat subspesies, yaitu Homo sapiens sapiens.

Biologi secara keseluruhan tidak mendukung konsep penggolongan ras karena konsep tersebut sejak awal tidak berdasar pada biologi. Konsep ras kasarnya lahir dari pengamatan kasat mata dan cocoklogi. Dengan kata lain, konsep ras sendiri tidaklah valid, terlebih tentang stereotip yang menyertai tiap-tiap golongan ras.

Makanya sekarang penggolongan manusia menggunakan konsep yang lebih jelas, seperti haplogrup (genetika) atau etnis (sosiokultural), yang kadang keduanya dijadikan substitusi dalam penggolongan ras modern.

Jika penggolongan ras modern menggunakan haplogrup dan/atau etnis sebagai dasarnya, ya sah-sah saja. Toh pada akhirnya konsep ras klasik yang berdasarkan morfologi semata tidak dipakai lagi. Yang tidak dibenarkan, baik secara sains maupun moral, adalah perlakuan diskriminatif terhadap kelompok-kelompok yang berbeda.

Jadi tidaklah benar bahwa biologi dapat membenarkan stereotip pada suatu konsep yang tidak berdasar jelas.

Semoga membantu. 

Komentar